Renungan Saja


“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita”
― Soe Hok Gie, Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. ”
― Soe Hok Gie, Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran

“Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa.”
― Soe Hok Gie, Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran

Filosofi Tanpa Agama


Tulisan ini saya buat untuk seorang teman yang sedang keranjingan mempelajari filosofi. Satu waktu dia menyebutkan bahwa kebanyakan para filsuf akhirnya menjadi atheis atau bahkan gila. Kenapa demikian, pertanyaan saya? Jawabannya waktu itu adalah karena mereka memiliki pemikiran yang jauh lebih maju ketimbang pemikiran kebanyakan orang pada zamannya. Ide-ide brilian mereka akan alam semesta tidak dapat diterima, kebanyakan dari filsuf tersebut diasingkan dari masyarakat.

Ketika saya mulai ikut membaca buku filosofi, saya memiliki pemikiran sendiri mengenai mengapa kebanyakan para filsuf tersebut menjadi atheis dan gila. Bukan karena pemikiran mereka terlalu brilian saya kira, bukan pula karena mereka diasingkan. Tapi karena mereka memisahkan pemikiran (logika) mereka dari agama. Awal dari pemikiran para filsuf adalah karena tidak mau menerima penjelasan-penjelas berdasarkan mitologi akan kejadian alam semesta. Sehingga mereka mencari penjelasan lain yang menurut mereka lebih ilmiah. Pasti ada penjelasan yang lebih rasional mengenai turunnya hujan, atau terbit dan tenggelamnya matahari ketimbang penjelasan karena para dewa atau dewi menangis sehingga turunlah hujan.

Sayang sekali mereka belum mengenal Islam pada zaman itu, seandainya mereka telah mengenal Islam dan meyakini kebenarannya, saya yakin pastilah mereka tidak akan menjadi Atheis atau bahkan gila. Menurut pemikiran pribadi saya saja, ketika para filsuf tersebut mencari penjelasan-penjelasan ilmiah mengenai alam semesta, dan menemukan jawaban mereka, yang memang adalah benar ( setelah dibuktikan lebih jauh di zaman setelahnya), mereka sampai pada pertanyaan akhir yang tidak mampu mereka jawab hanya dengan logika mereka, yaitu bagaimana semua zat yang ada di alam ini ada, bagaimana asal mulanya, bagaimana sebenarnya tercipatanya, SIAPAKAH penciptanya? Disinilah keyakinan akan adanya Tuhan yang menciptakan dan mengatur semuanya dibutuhkan. Disinilah logika tidak dapat dipisahkan dari agama. Jika kita hanya memaksakan logika kita saja, seberapa luaskah ilmu manusia? Tidak lebih dari setetes air dari luasnya samudra.

Berpikir mengenai kejadian alam semesta sama sekali tidak salah, mempelajari filosofi sama sekali bukan berati mendustakan Tuhan. Bahkan dalam islam, dalam salah satu firman Allah kita diperintahkan untuk memperhatikan dan mempelajari ciptaan Allah, dari sana kita akan dapat melihat tanda-tanda keangungan- Nya. Jadi buat teman saya, mari kita pelajari filosofi, asah logika kita namun jangan pisahkan dari agama.