Tulisan ini saya buat untuk
seorang teman yang sedang keranjingan mempelajari filosofi. Satu waktu dia
menyebutkan bahwa kebanyakan para filsuf akhirnya menjadi atheis atau bahkan
gila. Kenapa demikian, pertanyaan saya? Jawabannya waktu itu adalah karena
mereka memiliki pemikiran yang jauh lebih maju ketimbang pemikiran kebanyakan
orang pada zamannya. Ide-ide brilian mereka akan alam semesta tidak dapat
diterima, kebanyakan dari filsuf tersebut diasingkan dari masyarakat.
Ketika saya mulai ikut membaca buku
filosofi, saya memiliki pemikiran sendiri mengenai mengapa kebanyakan para
filsuf tersebut menjadi atheis dan gila. Bukan karena pemikiran mereka terlalu
brilian saya kira, bukan pula karena mereka diasingkan. Tapi karena mereka
memisahkan pemikiran (logika) mereka dari agama. Awal dari pemikiran para
filsuf adalah karena tidak mau menerima penjelasan-penjelas berdasarkan
mitologi akan kejadian alam semesta. Sehingga mereka mencari penjelasan lain
yang menurut mereka lebih ilmiah. Pasti ada penjelasan yang lebih rasional
mengenai turunnya hujan, atau terbit dan tenggelamnya matahari ketimbang
penjelasan karena para dewa atau dewi menangis sehingga turunlah hujan.
Sayang sekali mereka belum
mengenal Islam pada zaman itu, seandainya mereka telah mengenal Islam dan
meyakini kebenarannya, saya yakin pastilah mereka tidak akan menjadi Atheis
atau bahkan gila. Menurut pemikiran pribadi saya saja, ketika para filsuf
tersebut mencari penjelasan-penjelasan ilmiah mengenai alam semesta, dan
menemukan jawaban mereka, yang memang adalah benar ( setelah dibuktikan lebih
jauh di zaman setelahnya), mereka sampai pada pertanyaan akhir yang tidak mampu
mereka jawab hanya dengan logika mereka, yaitu bagaimana semua zat yang ada di
alam ini ada, bagaimana asal mulanya, bagaimana sebenarnya tercipatanya,
SIAPAKAH penciptanya? Disinilah keyakinan akan adanya Tuhan yang menciptakan
dan mengatur semuanya dibutuhkan. Disinilah logika tidak dapat dipisahkan dari
agama. Jika kita hanya memaksakan logika kita saja, seberapa luaskah ilmu
manusia? Tidak lebih dari setetes air dari luasnya samudra.
Berpikir mengenai kejadian alam
semesta sama sekali tidak salah, mempelajari filosofi sama sekali bukan berati
mendustakan Tuhan. Bahkan dalam islam, dalam salah satu firman Allah kita
diperintahkan untuk memperhatikan dan mempelajari ciptaan Allah, dari sana kita akan dapat melihat tanda-tanda keangungan- Nya. Jadi buat teman saya, mari kita
pelajari filosofi, asah logika kita namun jangan pisahkan dari agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar